ALHAMDULILLAH.. AKHIRNYA TER-PUBLISH JUGA.... :)

Setelah melalui perjuangan panjang... dengan berbagai macam kegagalan... akhirnya 1 karya berhasil nampang di buku antologi yang berjudul "Ramadhan di Rantau"... Cuma bisa mengucap : Alhamdulillah...:)



RAMADHAN DI KAMPUS PERJUANGAN

Ramadhan. Satu kata yang mampu menggetarkan hati bila disebut oleh lisan. Satu kata ini terasa spesial dan sangat dinantikan kehadirannya oleh hampir seluruh umat muslim di dunia. Tak hanya menahan lapar dan dahaga yang menjadi aktivitas khas di bulan Ramadhan ini, tetapi juga menahan hawa nafsu yang kerap menguasai hati setiap insan. Banyak cerita yang tercipta dalam menapaki setiap langkah perjalanan di bulan yang penuh berkah dan ampunan ini. Tak terkecuali kisahku yang menjalani Ramadhan hampir sebulan penuh di kota pahlawan, Surabaya.
Tahun 2009 silam, aku resmi menjadi menyandang gelar mahasiswa, bukan siswa lagi. Aku menuntut ilmu di salah satu institut negeri di kota Surabaya. Betapa bangganya ketika aku berhasil mengenakan jas almamater kampus perjuangan ini. Hatiku benar-benar diliputi kebahagiaan karena berhasil masuk di salah satu jajaran kampus terbaik di negeri ini. Atmosfer kebahagiaan akan semakin bertambah menyelubungi hati ini apabila aku bisa diterima di perguruan tinggi kedinasan yang dinaungi oleh Departemen Keuangan. Ya, di saat aku sudah diterima di institut ini, aku masih harap-harap cemas menunggu pengumuman ujian saringan masuk perguruan tinggi kedinasan ini.
Namun rasa bangga dan bahagia langsung hilang sekejap setelah serangan teror dari senior yang dikenal dengan istilah pengaderan. Istilah “Welcome Party” yang didengungkan para senior untuk menyambut kami, para mahasiswa baru, hanyalah kamuflase belaka. Ramah tamah dan canda tawa yang kubayangkan saat “Welcome Party” ternyata hanyalah fatamorgana, dan kenyataannya justru bentakan dan makian yang kami terima. Peristiwa “Welcome Party” yang langsung mengubah pemikiranku pada awalnya bahwa dunia mahasiswa itu indah terjadi sehari sebelum puasa Ramadhan. Seperti inikah kehidupan kuliah yang akan kujalani ke depannya?
Ini pertama kalinya aku menjalani puasa Ramadhan jauh dari keluarga. Rasanya sangat berat pada awalnya. Biasanya saat akan berbuka, hidangan lezat nan nikmat buatan ibu sudah tersaji manis di meja makan, lengkap dengan minuman segar penghalau dahaga. Ketika di tanah rantau, aku harus antri terlebih dahulu untuk dapat menikmati sepiring hidangan berbuka puasa dan segelas minuman yang membasahi gersangnya tenggorokan. Itu pun tidak selezat masakan ibu. Biasanya saat akan sahur, bapak selalu sabar membangunkanku yang selalu menarik kembali selimut tiap kali dibangunkan. Ketika menjalani Ramadhan jauh dari beliau, aku harus membiasakan diri bangun sendiri. Kalau tidak, tamatlah riwayat sahurku. Kini aku harus melakukan semua sendiri. Hidup di rantau benar-benar membentuk kemandirianku.
Di bulan suci ini pula aku harus menerima kenyataan bahwa cita-citaku untuk bisa diterima di perguruan tinggi kedinasan kandas sudah. Aku tidak lolos ujian saringan masuk. Padahal harapan yang aku gantungkan untuk bisa diterima begitu tinggi. Hal ini cukup menambah beratnya menjalani puasa di tanah rantau.
‘Kebahagiaan’ menjalani Ramadhan di tanah rantau semakin lengkap dengan adanya ‘sambutan’ dari senior. Serangan teror pengaderan yang ditujukan kepada para mahasiswa baru yang tak berdosa dan tak tahu apa-apa seperti kami semakin gencar saja. Bentakan dan makian sudah menjadi santapan sehari-hari. Santapan itu kami terima selama hampir setahun selama kami menjadi mahasiswa pada tahun pertama. Tak hanya bentakan dan makian, tugas-tugas aneh sering diberikan kepada kami. Kami sering begadang malam hanya untuk mengerjakan tugas tak masuk akal dari monster-monster kampus. Kondisi psikis yang yang tak menentu akibat kegagalan masuk perguruan tinggi kedinasan, bombardir makian dan tugas dari senior serta ditambah saat itu dalam keadaan berpuasa seakan menumbangkan fisikku. Aku jatuh sakit selama beberapa hari. Untungnya, aku mempunyai sahabat-sahabat yang perhatian dan siap menolongku di saat aku membutuhkan. Saat itu aku benar-benar membenci kesenioritasan atas tindakan semena-mena yang ditujukan kepada para adik-adik mereka. Namun seiring berjalannya waktu, aku baru menyadari bahwa tersirat esensi-esensi yang besar manfaatnya di balik bentakan, makian, dan tugas yang sedemikian absurd. Terlebih saat aku mulai menjadi mahasiswa tingkat dua, kerinduan masa-masa mengerikan dan mengenaskan saat menjadi mahasiswa baru seakan membuncah. Pengaderan benar-benar pantang untuk diulang. Namun, momen pengaderan yang bertepatan saat bulan Ramadhan menjadikan semua itu terasa indah untuk dikenang.

Komentar

  1. Keren, sungguh mengagumkan, luar biasa.
    Anda sangat bertalenta dalam menulis.
    Boleh saya share di medsos? Mungkin akan menginspirasi anak muda lainnya.

    BalasHapus
  2. @Rizal : Sama-sama. Salam kenal.
    @Ary : ojo aneh-aneh deh.. -___-

    BalasHapus
  3. Sangat kurang bersahaja jikalau anda tidak menyebarkan tulisan yang inspiratif ini.
    Tolong pertimbangkan kembali.

    BalasHapus
  4. maaf, saya tidak mau menyombongkan diri atas apa yang saya miliki...

    BalasHapus
  5. Super sekali.
    Tapi bakat terpendam harus disebar biar menebar inspirasi untuk kaum muda saat ini, terutama bagi maba saat ini.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer