MASIH ADA ORANG BAIK DI KOTA INI

Kata orang, Jakarta itu keras, sulit menemukan orang baik di sini. Apalagi jika bertemu dengan orang-orang yang baru dikenal, maka siap-siaplah pasang tampang dan sikap waspada. Awalnya aku sependapat sama mereka, namun stigma negatif tersebut sedikit luntur setelah kejadian yang aku alami pada hari Sabtu, dua hari kemarin. 

Bermula dari agenda acara kumpul-kumpul Ikasta-ITS (Ikatan Alumni Statistika - ITS) yang dilaksanakan pada Sabtu, 28 Maret 2015 di rumah Pak Sony yang berada di kompleks BATAN, Rawa Bambu, Jakarta Selatan. Awalnya aku berencana tidak datang karena aku sendiri sudah ada agenda sama salah satu temanku. Namun karena agenda dengan temanku itu terpaksa dicancel, dan daripada aku nganggur nggak ada acara, mendingan aku menyusul ke acara temu alumni. Masih pukul 9 pagi, gumamku dalam hati saat melihat arloji yang melingkar di tangan kiriku. Okelah langsung berangkat walaupun dengan konsekuensi harus menjadi single fighter untuk menuju ke sana karena teman-teman yang lain lebih dahulu berangkat ke lokasi. Untungnya mereka berbaik hati memberikan informasi akses menuju ke sana.Aku disarankan untuk naik KRL turun di Pasar Minggu, kemudian lanjut dengan menggunakan angkot S15, nanti bilang saja ke supir angkot turun di kompleks BATAN. Selanjutnya, untuk menuju lokasi, aku harus menyeberang jalan dan masih masuk jalan kecil lagi untuk sampai ke lokasi. Aku hanya manggut-manggut meskipun dalam pikiranku sudah puyeng.

Perjalanan dimulai dari Stasiun Kemayoran dengan tujuan Stasiun Pasar Minggu. Aku mengestimasi akan tiba di Stasiun Pasar Minggu dalam waktu kurang lebih 45 menit. Namun estimasi hanya tinggal estimasi. Realitanya, kereta mengalami 'keleletan' akibat terlalu sering berhenti karena mengalah sama kereta yang lain. Dan kereta baru tiba di Stasiun Pasar Minggu setelah satu jam kemudian, satu jam lebih malah. Belum lagi nyari lokasinya yang sama sekali belum aku ketahui. Yah, bisa-bisa pas aku nyampe lokasi, semua orang sudah bubar... hehehe.  

Aku mulai bertanya ke beberapa security di Stasiun Pasar Minggu. Mereka pun tidak bisa memberikan keterangan secara detail tentang lokasi yang kutanyakan. Rasa hopeless hampir saja menghinggap sebelum pada akhirnya seseorang menepuk bahuku dari belakang. 

"Mau ke mana mbak?" seorang ibu-ibu separuh baya memakai baju gamis warna coklat dan jilbab lebar yang senada dengan gamis yang dipakainya tersenyum padaku. 

Aku terdiam sesaat. Sejurus kemudian, aku membalas senyumannya dan menjawab, "Kompleks BATAN Bu". Ada sedikit rasa waspada yang menyusup karena aku sama sekali tidak mengenal perempuan ini. 

"Wah. Kalau kompleks BATAN sih saya kurang tahu persis ya Mbak. Setahu saya, kalau mau naik angkot, nanti nyari yang S15, arahnya ke sana" dengan logat Jawa yang langsung bisa kukenali (karena aku orang Jawa... hehehe), ibu itu menjelaskan padaku sambil menunjuk arah jalan.Aku hanya manggut-manggut.
 "Mbak, mau saya anterin nyari S15?" ibu itu menawarkan bantuan kepadaku.
"Ehh... Emmm. Nggak usah repot-repot Bu..." aku gugup. Iya gugup. Seseorang yang baru kutemui hari ini menawarkan bantuan padaku. 
"Nggak apa-apa mbak. Saya sebenarnya mau ambil motor di parkiran sana. Cuma sebelum ambil motor, saya mau ambil uang dulu di ATM di sana. Kebetulan ATM nya searah sama tempat S15 ngetem", ibu itu menunjukkan dua arah yang berlawanan secara bergantian.
"Yuk, saya anter buat nyari angkot... " ibu itu kembali menawarkan bantuan padaku.
"Ibu, nggak usah. Saya malah merepotkan ibu. Tempat ibu ngambil motor sama tempat angkot ngetem kan berlawanan arah..." aku berusaha menolak secara halus.
"Nggak apa-apa mbak. Lagian saya tadi kan sudah bilang, saya mau ambil uang di ATM yang kebetulan tempatnya deketan sama tempat angkot ngetem. Yuk mbak saya anter," ibu itu menarik lenganku dengan pelan. Aku kaget namun akhirnya aku mengikuti langkah kaki ibu itu. Bismillah, semoga dia adalah orang baik. 
Benar saja, tak lama kemudian aku melihat beberapa angkot berwarna merah berjejeran di depanku. Di kaca depan angkot terlihat tulisan S15. Kami berdua menghampiri salah satu angkot. 
"Pak, ini arah ke kompleks BATAN kan?" ibu itu bertanya pada sopir angkot. 
"Iya Bu.." jawab sopir angkot singkat. 
"Mbak. Naik ini aja ya. Nanti bilang lagi ke pak sopir kalau mau turun kompleks BATAN".
"Iya Bu. Makasih banyak. Maaf saya sudah merepotkan ibu,"kataku.  
"Nggak apa-apa Mbak. Beneran", kata ibu itu, "Eh iya Pak, nitip mbak ini ya", ibu itu berpesan pada sopir angkot. Duh, aku jadi merasa sungkan karena telah merepotkan ibu ini. 
Aku masuk ke dalam angkot dan memilih kursi yang tepat menghadap pintu angkot. Saat aku ingin mengucapkan terima kasih lagi pada ibu itu, mendadak ibu itu sudah hilang dari pandanganku. Mataku mencari keberadaan ibu yang belum sempat kutanyai namanya itu. Namun, langkah ibu itu sepertinya terlalu gesit sehingga mataku tak menemukan keberadaan ibu itu.
"Kompleks BATAN Rawa Bambu Pak," seperti pesan ibu tadi, aku kembali mengulangi menyebutkan tujuanku ke sopir angkot.
Sepanjang perjalanan, aku terdiam sembari memandang ke arah luar. Jakarta memang keras, namun bukan berarti sangat sulit menemukan orang baik di sini.

Komentar

Postingan Populer