KETIKA MERANTAU MENJADI SEBUAH BERKAH...
Merantau. Apa yang terlintas di pikiran kalian ketika mendengar kata ini? Jauh dari keluarga? Meninggalkan kampung halaman yang merupakan zona nyaman? Harus beradaptasi dengan lingkungan baru? Atau sederet kisah ngenes yang akan kalian ceritakan?
Bagiku, hidup di perantauan mau tak mau membuat kita harus jauh dari keluarga. Frekuensi untuk bertemu dengan keluarga bisa dipastikan dapat dihitung dengan jari. Dan... cukup membuat pegal punggung saat berada di kereta selama 10 hingga 12 jam untuk menempuh jarak Ponorogo - Jakarta demi bertemu keluarga tercinta.
Merantau, mau nggak mau membuatku harus melakukannya segalanya sendirian. Cari rezeki sendiri, cari makan sendiri, nyuci sendiri, beli ini itu sendiri. Coba kalau di rumah. Masakan enak buatan ibu selalu terhidang di meja. Ada bapak yang siap mengantar ke mana-mana. Mau ke mana-mana juga nggak jauh. Nggak macet. Nggak mahal. Ah... Sudahlah, kalau diteruskan, nggak akan habis-habis keluhan ini.
Bagiku, hidup di perantauan mau tak mau membuat kita harus jauh dari keluarga. Frekuensi untuk bertemu dengan keluarga bisa dipastikan dapat dihitung dengan jari. Dan... cukup membuat pegal punggung saat berada di kereta selama 10 hingga 12 jam untuk menempuh jarak Ponorogo - Jakarta demi bertemu keluarga tercinta.
Merantau, mau nggak mau membuatku harus melakukannya segalanya sendirian. Cari rezeki sendiri, cari makan sendiri, nyuci sendiri, beli ini itu sendiri. Coba kalau di rumah. Masakan enak buatan ibu selalu terhidang di meja. Ada bapak yang siap mengantar ke mana-mana. Mau ke mana-mana juga nggak jauh. Nggak macet. Nggak mahal. Ah... Sudahlah, kalau diteruskan, nggak akan habis-habis keluhan ini.
Aku mencoba untuk bersyukur diberi kesempatan merantau di tanah orang, tepatnya di ibukota. Dengan merantau, aku belajar akan kemandirian. Dengan merantau, aku semakin memahami bahwa manusia diciptakan dalam kondisi yang heterogen, baik suku, etnis, agama, sampai cara pandang mereka. Dengan merantau, aku harus belajar akan arti toleransi terhadap berbagai macam kepentingan orang lain. Dengan merantau, aku belajar menghadapi kompleksitas permasalahan yang belum tentu aku temukan di daerah asalku.
Ah... tak terasa. Rasanya baru kemarin aku mengikuti seremoni purnawiyata bersama teman-teman SMA. Lalu aku harus merantau ke Surabaya untuk menimba ilmu selama 4 tahun di Kampus Perjuangan , ITS alias Institut Teknologi Sepuluh Nopember, bukan Institut Teknologi Surabaya, apalagi Institut Tugase Sak-ndayak. 4 tahun menimba ilmu yang kupikir akan berlangsung sangat lama, ternyata tanpa terasa sudah mencapai waktuku untuk memakai toga saat wisuda. Lalu perjuangan mencari kerja pasca wisuda yang penuh dengan lika-liku, penuh dengan derai air mata (oke, sedikit lebay... hahaha), dan pada akhirnya semua itu mengantarkanku ke tempat ini, ibukota, tempat mengais pundi-pundi rupiah. Konon katanya, kejamnya ibukota melebihi ibu tiri. Really? Well, let's see. Yang jelas, aku ingin berusaha agar stigma negatif yang sudah tertanam di pikiran orang-orang agar jangan sampai ikut tertanam dalam pikiranku. Bahwa Jakarta adalah tempat yang tepat untuk mengais rezeki, mengembangkan kompetensi, menemukan jati diri, dan mungkin saja... menemukan cinta sejati (?)... (hahaha... mulai ngelantur).
Jadi, siapa bilang merantau itu identik dengan hidup yang selalu ngenes? Asal bisa menyikapi dengan bijak, merantau akan menjadi sebuah keberkahan tersendiri bagi pelakunya.
Semoga Allah SWT senantiasa menguatkan... :)
wow, what an amazing story.
BalasHapusCan I share it in FB?
not for now Sir....
BalasHapus