Secuil Cerita Tentang Odontektomi
Setelah sekian lama jari-jari saya kram akibat tidak menulis dalam waktu yg cukup lama, kali ini saya ingin membagikan pengalaman mengenai odontektomi yang konon kabarnya terdengar horor bagi sebagian orang.
Gigi geraham bungsu atau wisdom teeth yang tumbuh tidak sempurna di rahang bawah kiri dan kanan saya terdeteksi tahun 2013 silam, di mana saat itu status saya masih tidak jelas. Mahasiswa bukan, tapi belum kerja juga, hehehe. Saat itu bertepatan dengan Bulan Kesehatan Gigi Nasional. FKG Universitas Hang Tuah, salah satu kampus swasta yang terletak dekat dengan ITS, sedang mengadakan acara pemeriksaan gigi gratis bagi umum.
Singkat cerita, saya dan teman saya yang bernama Ferdin mendatangi lapak tersebut untuk scaling (maklum, masih mental-mental gratisan). Scaling dilakukan oleh mahasiswa kedokteran gigi kampus tersebut. Sebelum dilakukan scaling, gigi saya diperiksa terlebih dahulu oleh dokter gigi yang juga merupakan dosen di kampus tersebut.
"Wah, gigi geraham belakangnya tidur mbak. Segera dioperasi ya", celetuk pak dokter.
What?! Gigi tidur? Makanan macam apa itu? Operasi? Ampun pak, lihat jarum suntik saja sudah keluar keringat dingin.
"Iya mbak. Jadi gigi geraham mbak paling belakang itu tumbuhnya ke depan, yang harusnya tumbuh ke atas. Gigi ini berpotensi menubruk gigi depannya, yang bisa mengakibatkan sakit dan ngilu. Makanya, tindakan terbaik adalah dengan operasi, istilahnya odontektomi, yaitu suatu tindakan pengeluaran gigi bungsu yang impaksi melalui bedah atau operasi. Sebelum operasi, nanti harus dilakukan scan panoramic supaya diketahui posisi gigi yang tumbuh tidak sempurna tersebut, sehingga dokter dapat melakukan langkah berikutnya", pak dokter yang baik hati dan tidak sombong kembali melanjutkan penjelasan.
Oke, karena saya bukan orang medis dan tidak paham masalah per-gigi-an. Akhirnya saya iya-iya aja. Dan... Sampai tahun 2018 ini, saya belum melakukan operasi odontektomi. Hahaha...
Akhirnya, Senin, 8 Januari 2018, saya memutuskan untuk menjalani operasi odontektomi, setelah mengumpulkan keberanian, kekuatan, dan semangat (halah...), dan karena beberapa hari sering kumat juga, nyut-nyutan pada gigi geraham bungsu di sebelah rahang kiri bawah.palagi sering ada sisa makanan yang menyangkut di sela gigi geraham bungsu dan gigi depannya saat makan. Kan repot.
Usai searching mengenai dokter gigi sub spesialis bedah mulut yang bagus di Jakarta, pilihan saya jatuh pada drg.Abdul Latif, Sp.BM(K), yang berpraktek di Rumah Sakit Jakarta. Hal ini juga sesuai rekomendasi Mbak Tika, teman kantor saya yang telah menjalani operasi odontektomi lebih dulu. Alhamdulillah, saat itu suami sedang pulang ke Jakarta, dan menyempatkan izin tidak masuk kantor selama sehari sehingga demi mengantar dan menemani saat operasi. Big thanks, my man... :)
Drg. Abdul Latif baik, ramah, dan profesional. Sebelum operasi, beliau menjelaskan bahwa sesuai hasil scan panoramic, 2 gigi geraham bungsu saya di rahang bawah kiri dan kanan impaksi dan perlu dioperasi, serta kedua gigi geraham rahang atas perlu dicabut karena pertumbuhannya mendorong gigi depannya. Wow... Empat gigi saya bakal hilang. Namun dokter bilang nggak harus sekarang penanganan keempat gigi tersebut, karena berkaitan sama syaraf juga sehingga hari itu juga yang diambil lebih dahulu adalah gigi pada rahang kiri bawah.
Bismillah, operasi odontektomi dimulai. Saya disuruh kumur-kumur lebih dahulu, lalu dokter menyuntikkan anesthesia ke bagian gusi yang akan dibedah agar selama operasi saya nggak merasa kesakitan. Beberapa saat setelah disuntik anesthesia, gusi saya serasa bengkak namun mati rasa.
Dibantu suster, dokter mulai mengeksekusi gigi saya. Suara bor mulai terdengar. Saya disuruh membuka mulut lebar-lebar. Dan "rrrrrrrrrrrrrrrrrrr...", gusi saya mulai dibedah dengan menggunakan mesin bor. Alhamdulillah, karena efek anestesi, saya tidak merasakan kesakitan. Cuma suara mesin bornya itu lho, bikin ngilu...
Beberapa kali, dokter menginstruksikan saya meludah untuk mengeluarkan darah yang mulai menggenang di mulut. Setelah proses pembedahan gusi selesai, tibalah momen pencabutan gigi. Proses pencabutan gigi nggak berlangsung lama. Dan alhamdulillah nggak sakit karena pengaruh anesthesia (andaikan penemu anesthesia masih hidup, ingin rasanya saya salim pada beliau). Selesai dicabut dan saya disuruh kumur, gusi saya dijahit. Sret sret sret... Selesai! Suster kemudian memberikan kassa kepada saya untuk disuruh ditaruh di gigi yang telah selesai dibedah dan diminta untuk digigit selama sejam. Dokter juga menyarankan agar tidak memakan panas dan pedas dahulu pasca operasi. Saya juga disuruh kembali lagi seminggu kemudian untuk kontrol dan lepas jahitan. Dokter meresepkan antibiotik dan obat pereda nyeri, lalu sudah memperbolehkan saya dan suami keluar ruangan.
Di sinilah penderitaan dimulai, ketika biusnya hampir habis. Saya mulai merasakan sakit yang luar biasa (maaf ya, saya orangnya memang lebay dan nggak tahan sakit :D). Bahkan untuk membuka mulut pun, sakitnya luar biasa. Alhasil, selama beberapa hari, saya nggak bisa makan senikmat hari-hari biasa. Makanan yang lembek-lembek macam bubur dan mashed potato sempat akrab dengan saya selama 2 hari. Pipi saya pun bengkak. Saya harus pakai masker saat ke kantor supaya nggak dikira kayak orang habis kalah tawuran. Memang harus merasakan sakit berhari-hari, tapi insya Allah demi kebaikan dan kesehatan. Oh ya, biaya operasi odontektomi ditambah obat-obatan (Cefixime, Celebrex, dan Medixon) dan administrasi RS sebesar Rp 4.843.000,-.
Jadi, jangan takut dengan operasi odontektomi ya. Karena odontektomi nggak seseram yang dibayangkan. Hanya saja, efek pasca operasi yang mungkin sedikit menyakitkan, hehehe .
See you next story.. .
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
BalasHapusHalo mau tanya di dr abdul latif bnran gk sakit? Sy takut mw cabut ada sisa 2 akar gigi bungsu. Oiya mba kira2 tau gk kisaran hrga kl operasi gigi bius umum /total
BalasHapus