Zona Waktu Kehidupan
Bagi saya, ada sesuatu yang menarik dengan obyek yang saya potret di atas (maafkan kualitas jepretan orang yang tidak berbakat dalam hal fotografi ini), di mana obyek tersebut terletak di belakang meja resepsionis di salah satu hotel di Makassar. Bukan karena sisi desain interior maupun bentuk arsitektur yang simetris atau embuh apalah. Saya bukan arsitek. Bagi saya, kata simetris selalu berhubungan dengan bangun datar yang apabila dilipat menjadi dua atau lebih bagian yang sama besar, maka akan didapatkan bangun tersebut berhimpitan dengan bangun yang dilipatkan. hehehe
Tampak pada foto di atas terdapat tiga buah jam dinding yang identik. Di bawah masing-masing jam tersebut terdapat tulisan WIB, WITA dan WIT. Lalu di bawahnya lagi terdapat desain berbentuk kapal phinisi, salah satu ikon kota Makassar.
Jadi apa menariknya? Bukankah jam seperti itu banyak terdapat di hotel-hotel di Indonesia? Malah di beberapa hotel, tidak hanya mencantumkan 3 zona di Indonesia, tetapi juga beberapa kota besar di dunia.
Ya begitulah. Karena menarik itu relatif... Hehehe (apaseh...)
WIB (Waktu Indonesia Barat), WITA (Waktu Indonesia Tengah), dan WIT (Waktu Indonesia Timur), 3 zona waktu yang terdapat di Indonesia yang memiliki perbedaan waktu 1 jam untuk masing-masing zona waktu. WIB ke WITA selisih 1 jam, WITA ke WIT selisih 1 jam, dan WIB ke WITA selisih 2 jam. Hal inilah yang menyebabkan seolah-olah ada perbedaan waktu. WIT seolah lebih cepat dibanding WIB dan WITA, WITA seolah lebih cepat 1 jam dibanding WIB dan lebih lambat dibanding WIT, serta WIB seolah dianggap sebagai zona waktu paling lambat di antara zona waktu lainnya.
Semua berada pada zona waktu masing-masing, bukan masalah cepat atau lambat. Bukankah tiap zona waktu itu memiliki jatah yang sama, yakni 24 jam dalam sehari?
Sama seperti halnya dengan apa yang terjadi di sekitar kita. Ada yang lulus kuliah umur 22 tahun, namun baru mendapat kerjaan di usia 24 tahun. Ada yang baru lulus kuliah usia 24 tahun langsung mendapatkan pekerjaan. Ada yang usia 22 tahun lulus dan cepat mendapatkan pekerjaan dalam hitungan bulan namun beberapa kali pindah pekerjaan karena tidak cocok.
Ada yang masih single. Ada yang menikah usia muda langsung diberi momongan. Ada yang menikah umur 24 tahun namun belum kunjung diberikan momongan hingga usia 30 tahun. Ada pula yang menikah di usia 30 tahun langsung diberikan momongan.
Ada yang masuk kerja di usia 22 tahun namun baru naik jabatan 8 tahun kemudian. Ada yang baru masuk kerja di usia 26 tahun namun 4 tahun kemudian bisa naik jabatan.
Semua bekerja di zona waktu masing-masing. Nggak usah merasa minder jika kita terasa lebih lambat dibanding orang-orang di sekitar kita. Jangan pula merasa sombong dengan apa yang telah kita dapatkan, yang kita rasa lebih cepat, dibanding orang-orang sekitar kita.
Jangan pernah merasa iri dengan orang-orang yang mendapatkan suatu rezeki lebih cepat dibanding kita, sedangkan kita pun sangat menginginkannya. Kita tak pernah tahu, perjuangan apa yang telah dilakukan hingga mereka bisa mendapatkannya. Kita pun tak pernah tahu, apa saja yang telah diambil dari mereka sebelumnya.
Tak perlu bersedih apabila pencapaian kita dinilai lebih lambat dari orang lain karena berbagai macam hambatan dan masalah yang menghampiri, karena kita tak pernah tahu apa yang akan kita dapatkan setelah ini.
Jangan merasa menjadi orang paling malang sedunia. Belum tentu orang-orang yang memiliki apa yang tidak kita miliki, atau mungkin belum kita miliki, hidupnya jauh lebih bahagia dari kita. Belum tentu orang yang hidupnya lebih sulit dari kita, mereka merasa hidupnya paling menderita. Ada rasa syukur yang mereka tanamkan dalam diri masing-masing agar selalu mampu memaknai segala hal yang datang di kehidupan mereka sebagai sebuah hikmah dan pembelajaran hidup.
Jangan merasa menjadi orang paling malang sedunia. Belum tentu orang-orang yang memiliki apa yang tidak kita miliki, atau mungkin belum kita miliki, hidupnya jauh lebih bahagia dari kita. Belum tentu orang yang hidupnya lebih sulit dari kita, mereka merasa hidupnya paling menderita. Ada rasa syukur yang mereka tanamkan dalam diri masing-masing agar selalu mampu memaknai segala hal yang datang di kehidupan mereka sebagai sebuah hikmah dan pembelajaran hidup.
Pada akhirnya, mari bekerja di zona waktu masing-masing. Tidak usah sibuk membandingkan dan menghakimi kehidupan kita dengan orang lain. Fokus pada apa yang kita kerjakan, dan tentu saja selalu berada di koridor yang telah ditetapkan-Nya agar semua yang kita raih nantinya menjadi suatu yang memberikan keberkahan dalam hidup.
"Bersabarlah... Bersyukurlah...."
Komentar
Posting Komentar