Lebaran : Menebar Kebahagiaan, Bukan Pertanyaan
Libur telah tiba...
Libur telah tiba...
Hore... Hore... Hore...
Generasi 90'an tentu tak asing dengan lirik lagu di atas yang sempat booming di jamannya. Sebentar lagi, sebagian orang Indonesia akan menikmati libur panjang lebaran, yaitu dari tanggal 11 - 20 Juni 2018. Wow! Kok bisa? Iya, bisa. Pemerintah telah merevisi kebijakan mengenai cuti bersama dengan menambah 3 hari libur, yaitu tanggal 11, 12, dan 20 Juni 2018 di mana sebelumnya cuti bersama tersebut hanya berlangsung mulai tanggal 13 - 19 Juni 2018.
Senang? Tentu saja. Alhamdulillah, akhirnya tahun ini bisa merasakan lebaran di rumah setelah tahun 2017 kemarin saya dan suami menjalani libur lebaran di tanah rantau, Makassar. Saat itu, suami nggak bisa libur. Ya sebagai istri yang (berusaha) taat sama suami, akhirnya saya memutuskan untuk menemani suami selama di Makassar.
Lebaran tentu menjadi momen yang berbahagia bagi hampir umat muslim. Bisa sungkem sama orang tua, bisa ketemu sama keluarga besar, bisa dapat uang saku (hahaha.... sudah tua woy, waktunya ngasih, bukan dikasih :D), dan sederet kebahagiaan yang belum tentu ditemukan dan dirasakan pada hari-hari sebelumnya.
Namun bagi sebagian orang, lebaran terkadang menjadi momok yang menakutkan. Sudah menjadi rahasia umum kalau lebaran selain menjadi ajang menebar kebahagiaan, juga menjadi ajang menebar pertanyaan.
Yang masih awet di kampus dan nggak lulus-lulus, siap-siap saja dengan pertanyaan, "Kapan wisuda? Masih betah saja di kampus? Otaknya dipakai kalau kuliah, biar cepet lulus," dan seabrek pertanyaan yang membuat para mahasiswa hampir abadi ini cuma bisa menelan kertas-kertas proposal tugas akhir atau skripsi yang berkali-kali ditolak dosen.
Yang masih belum mendapat rezeki pekerjaan atau usahanya masih di bawah banget, siap-siap saja dengan pertanyaan, "Sudah kerja di mana? Lho, belum kerja, kan udah lama lulusnya? Kamu nggak capek apa nganggur? Katanya pengusaha, kok nggak kaya-kaya sih?" serta pertanyaan lain yang menusuk kalbu.
Yang jomblo, siap-siap saja dapat pertanyaan, "Kapan Nikah? Mana calonnya? Sudah umur sekian kok belum punya pasangan? Kok betah melajang, keburu jadi bujang lapuk lho", dan banyak lagi pertanyaan lainnya yang mengiris hati sanubari para jomblo. Ya kali mereka pikir dapat jodoh semudah dapat beras di musim panen raya.
Yang sudah menikah, tapi belum dikasih rezeki anak, siap-siap saja dihadiahi pertanyaan, "Sudah isi belum? Sudah nikah lama kok belum punya anak? Si A baru menikah kemarin tapi udah hamil. Kalian bisa punya anak nggak sih?", dan segunung pertanyaan yang nylekit bagi para pasangan. Dipikir punya anak kayak punya boneka, tinggal ke toko, pilih yang cocok, bayar, bawa pulang deh.
Yang sudah menikah dan punya anak, siap-siap dengan pertanyaan, "Anaknya kok baru satu? Mbok ya nambah satu lagi, kasihan tuh anaknya main sendirian nggak punya saudara," dan pertanyaan-pertanyaan lain yang bikin panas telinga. Ya kali bikin anak semudah bikin mie instan.
Mungkin sebagian dari penanya bermaksud memberi perhatian. Tapi tak jarang maksud penanya tersebut berubah menjadi nyinyir. Jatuhnya, basa-basi yang super basi. Mungkin mereka yang hobinya basa-basi super basi belum pernah merasakan ada di posisi yang ditanyai. Tapi tak harus berada di posisi yang sama kan untuk memiliki sikap saling mengerti?
Mungkin yang ditanyain juga terlihat cengengas-cengenges, hanya senyum sambil mengeluarkan kata sakti "mohon doanya", santai, atau malah dibalas dengan candaan. Tapi kita tak pernah tahu kan bagaimana perasaan mereka sebenarnya? Pura-pura terlihat baik-baik saja itu nggak mudah lho, berat, kalian para nyinyiers nggak akan kuat :D.
Jawaban seperti apa sih yang diharapkan para nyinyiers ? Misalnya kapan nikah, kapan punya anak. Yang ditanyain pun belum tentu tahu. Kalau tahu, mungkin sudah dari dulu kali menikah setelah ketemu sang pujaan, atau langsung punya anak setelah menikah. Nyatanya ada faktor X yang nggak bisa dikendalikan sama orang yang ditanyain, yaitu campur tangan Tuhan. Kalau sudah begini, bisa apa kita sebagai makhluk Nya. Para penanya juga tak pernah tahu kan usaha apa sudah dilakukan? :)
Mari tunjukkan rasa peduli tanpa harus melukai hati. Ora usah ngriwuki yen ora iso ngrewangi. Jangan gampang baper juga bagi yang ditanyain. Senyumin aja... Bukankah senyum itu salah satu bentuk ibadah? :)
Last but not least, selamat mudik bagi yang menjalankan. Semoga selamat sampai tujuan.
Mungkin yang ditanyain juga terlihat cengengas-cengenges, hanya senyum sambil mengeluarkan kata sakti "mohon doanya", santai, atau malah dibalas dengan candaan. Tapi kita tak pernah tahu kan bagaimana perasaan mereka sebenarnya? Pura-pura terlihat baik-baik saja itu nggak mudah lho, berat, kalian para nyinyiers nggak akan kuat :D.
Jawaban seperti apa sih yang diharapkan para nyinyiers ? Misalnya kapan nikah, kapan punya anak. Yang ditanyain pun belum tentu tahu. Kalau tahu, mungkin sudah dari dulu kali menikah setelah ketemu sang pujaan, atau langsung punya anak setelah menikah. Nyatanya ada faktor X yang nggak bisa dikendalikan sama orang yang ditanyain, yaitu campur tangan Tuhan. Kalau sudah begini, bisa apa kita sebagai makhluk Nya. Para penanya juga tak pernah tahu kan usaha apa sudah dilakukan? :)
Mari tunjukkan rasa peduli tanpa harus melukai hati. Ora usah ngriwuki yen ora iso ngrewangi. Jangan gampang baper juga bagi yang ditanyain. Senyumin aja... Bukankah senyum itu salah satu bentuk ibadah? :)
Last but not least, selamat mudik bagi yang menjalankan. Semoga selamat sampai tujuan.
Komentar
Posting Komentar