Stay Simple, Stay Humble


"Jangan meninggalkan yang mampu memberi kenyamanan demi sesuatu yang hanya terlihat menarik sesaat"

Eits.. Ini bukan untuk membahas tentang kegalauan tentang lawan jenis ya... 
Ungkapan yang dikutip dari cuitan salah satu akun Twitter ini rasanya tepat didedikasikan untuk media sosial Twitter itu sendiri, yang sempat ditinggalkan oleh warganya yang silau akan pesona Instragram yang menawarkan keindahan visual dibandingkan dengan deretan kata, yang terkadang satire tapi penuh makna. Akan tetapi pada akhirnya, mereka sadar bahwa Twitter adalah tempat ternyaman untuk kembali ber-sosmed. 
Instagram, aplikasi yang telah diakuisisi Facebook pada tahun 2012 memang diciptakan untuk membagi hal-hal yang bersifat visual, yakni foto dan video di mana kini semakin berkembang dengan adanya fitur InstaStory yang memungkinkan pemilik akun dapat membagikan aktivitasnya dalam bentuk live video dan dapat melibatkan interaksi dengan pengikutnya. Seiring berjalannya waktu, Instagram menjadi lapak untuk menunjukkan eksistensi diri. Foto liburan, foto harta kekayaan, foto pasangan, hingga foto narsis yang diikuti dengan caption bijak yang cenderung "Jaka Sembung bawa kaleng, nggak nyambung oneeeeng..." :D. Peace...  
Bagi Sobat Missqueen yang setia mengikuti apa yang menjadi trending topic di Twitter, tentu tak asing dengan hashtag #CrazyRichSurabayan, sebuah hashtag yang diadopsi dari judul film "Crazy Rich Asian". Sesuai dengan hashtag, Crazy Rich Surabayan ini berisi cerita orang-orang tajir Surabaya yang entah harta mereka sepertinya nggak akan abis hingga turunan ke dua puluh tujuh. Ceritanya macam-macam, mulai dari bikinin mall buat anak-anaknya karena hobi mereka yang suka nge-mall, mancing ikan ke laut pakai kapal pesiar, rumah dilengkapi dengan studio musik yang harga alat-alatnya sudah jelas sundul langit, imunisasi dibela-belain ke Jepang, ke sekolah pakai mobil yang super mewah, ngasih kado mobil ke pacarnya, sampai melihara ikan koi yang harganya nggak rasional.
Oke, mungkin gaya penyampaian thread tentang Crazy Rich Surabayan terkesan hiperbolis, tapi memang beneran, kaum-kaum seperti itu memang benar adanya hidup di kota pahlawan. 
Yang bikin saya salut dengan kaum Crazy Rich Surabayan ini adalah sifat mereka yang kebanyakan humble. Kalau di Jakarta, orang kaya kebanyakan bisa dilihat dari penampilannya yang menunjukkan mereka adalah kaum jetset. Di Surabaya, kaum Crazy Rich Surabayan justru dengan santai tampil mengenakan kaos oblong dan sandal jepit ke mall padahal investasi propertinya di mana-mana. Ada yang malah malu gara-gara bawa mobil mewah yang akhirnya mobilnya diumpetin di suatu tempat yang agak jauh dari sekolahnya. Nggak tanggung-tanggung, Mercedes S-Class dan dia malu!
Lalu, hubungannya dengan instagram?
Ya, instagram kini seolah telah menjadi ajang untuk pamer dan nyinyir, ya nggak semua pengguna sih. Sebenarnya bisa jadi awalnya nggak ada niat mereka untuk pamer, tapi intensitas unggahan yang berlebihan membuat kesan seolah mereka ingin menunjukkan eksistensi dan ingin diakui terhadap apa yang mereka miliki. Ini yang kadang dijadikan bahan nyinyiran oleh netizen yang luar biasa budiman. Boleh saja kita menganggap nyinyiran itu adalah tanda iri mereka, tapi ada kalanya kita perlu introspeksi diri mungkin saja nyinyiran tersebut adalah salah satu teguran kepada kita agar nggak berbagi kebahagiaan secara berlebihan atau kegiatan eksistensi itu tidak berubah menjadi riya'. Bukankah segala sesuatu yang berlebihan itu nggak baik. Sik sik, lha kok saya jadi nyinyir dan julid ya...hehehe. Ampuni saya Yaa Rabb... 
Saya pengguna instagram, tapi menurut saya sendiri, saya adalah orang yang jarang pamer, soalnya apa yang mau dipamerin,hehehe.  Mobil belum punya, masa punya ortu mau dipamerin. Harta benda yang lain? Duh rek, apalah arti kekayaan saya yang macam debu di mata Crazy Rich Surabayan :D. Foto liburan? Lha wong saya jarang liburan (perlu kode ke suami nih). Upload foto sama pasangan? Prinsip saya dan suami, kebahagiaan dan kebersamaan nggak perlu sering dipublikasikan ke orang lain demi sebuah pengakuan, sepasang buku nikah telah menjadi bukti pengakuan yang istimewa bahwa kami telah sah di mata agama dan negara. Lagian kami juga bukan pasangan romantis ala-ala drakor kok :D. Mau upload foto selfie? Hahaha, maaf, saya nggak pede. Bukan berarti saya nggak mensyukuri atas apa yang dikaruniakan Allah kepada saya, tapi rasa syukur atas apa yang kita miliki, termasuk wajah, tidak perlu diungkapkan dalam bentuk selfie. 
Pada akhirnya, mari ber-socmed secara bijak. Contoh perilaku sederhana yang dilakukan para Crazy Rich Surabayan patut kita tiru, syukur-syukur bisa meniru kesuksesan mereka juga, aamiin aamiin aammin... Terkadang justru orang kaya yang sebenarnya yang nggak memerlukan pengakuan atas apa yang mereka miliki atau raih. Terkadang pula, orang yang sebenar-benarnya bahagia adalah orang yang jarang mempublikasikan kebahagiaannya pada khalayak ramai. 

Berbahagia secukupnya, bersyukur sebanyak-banyaknya. 

Komentar

Postingan Populer